Rabu, 25 Juni 2014

VISI DAN MISI TNI AU

VISI ANGKATAN UDARA
Terwujudnya postur TNI AU yang professional, efektif, efisien, modern, dinamis dan handal dalam rangka menegakkan serta mempertahankan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
MISI ANGKATAN UDARA
  • Mewujudkan kemampuan dan kekuatan sistem, persone1, materiil alut sista dan fasilitas untuk memenuhi postur TNI AU yang berkualitas agar siap untuk melaksanakan tugas dan fungsi.
  • Meningkatkan kemanpuan penyelenggaraan fungsi-fungsi intelijen dan pengamanan dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi TNI AU.
  • Melaksanakan pembinaan kekuatan dan kemampuan dalam rangka pelaksanaan tugas TNI AU baik dalam Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
  • Melaksanakan kegiatan bantuan kemanusiaan dan bakti sosial dalam rangka membantu otoritas sipil untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi terwujudnya keamanan dalam negeri dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
  • Meningkatkan kerjasama militer dengan negara-negara sahabat dalam rangka menciptakan kondisi kemanan nasional, regional dan internasional serta untuk meningkatkan hubungan antar negara.
  • Melaksanakan penelitian dan pengembangan terhadap strategi dan sistem pertahanan, sumber daya manusia, serta kemampuan dan pendayagunaan industri strategis nasional untuk kepentingan pertahanan matra udara.
  • Meningkatkan pemberdayaan fungsi perencanaan, pengendalian dan pengawasan dilingkungan TNI AU melalui penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pernerintah.
 http://tni-au.mil.id

Sejarah TNI Angkatan Udara

Sejarah lahirnya TNI AU bermula dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu sangat kekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. Sejalan dengan perkembangannya berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada tanggal 5 Oktober 1945 dengan nama TKR jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.
Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara, maka pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti dengan Angkatan Udara Republik Indonesia, kini diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Salah satu Sejarah monumental yang selalu diperingati jajaran TNI AU tiap tahun adalah apa yang dinamakan Hari Bhakti TNI AU. Peringatan Hari Bhakti TNI AU, dilatar belakangi oleh dua peristiwa yang terjadi dalam satu hari pada 29 Juli 1947. Peristiwa Pertama, pada pagi hari, tiga kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.
Peristiwa Kedua, jatuhnya pesawat DAKOTA VT-CLA yang megakibatkan gugurnya tiga perintis TNI AU masing-masing Adisutjipto, Abdurahman Saleh dan Adisumarmo. Pesawat Dakota yang jatuh di daerah Ngoto, selatan Yogyakarta itu, bukanlah pesawat militer, melainkan pesawat sipil yang disewa oleh pemerintah Indonesia untuk membawa bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya.
Penembakan dilakukan oleh dua pesawat militer Belanda jenis Kittyhawk, yang merasa kesal atas pengeboman para kadet TNI AU pada pagi harinya. Untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan ketiga perintis TNI AU tersebut, sejak Juli 2000, di lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA (Ngoto) telah dibangun sebuah monumen perjuangan TNI AU dan lokasi tersebut juga dibangun tugu dan relief tentang dua peristiwa yang melatar belakanginya. Di lokasi monumen juga dibangun makam Adisutjipto dan Abdurachman Saleh beserta istri-istri mereka.
PESAWAT MERAH PUTIH PERTAMA
Hari itu 27 Oktober 1945, sehari menjelang peringatan 17 tahun Sumpah Pemuda, di Pangkalan Maguwo, Yogyakarta terlihat ada kesibukan. Nampak para teknisi sedang berada di sekitar sebuah pesawat Cureng yang bertanda bulat Merah Putih, mempersiapkan segala sesuatunya untuk sebuah penerbangan yang direncanakan. Mereka menginginkan sebuah pesawat Merah Putih terbang hari itu, untuk membangkitkan Sumpah Pemuda.
Komodor Udara Agustinus Adisutjipto, yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Adi, adalah satu-satunya penerbang Indonesia yang berada di Pangkalan Maguwo. Hari itu, Pak Adi akan terbang bersama Cureng Merah Putih. Upaya itu membawa hasil.
Pak Adi membawa terbang Pesawat Cureng Merah Putih tersebut berputar-putar di Angkasa Pangkalan Maguwo disaksikan dengan rasa kagum oleh seluruh anggota pangkalan yang berada dibawah. Itulah awal mula sebuah pesawat Indonesia bertanda Merah Putih terbang di angkasa Indonesia yang merdeka.

KSAU DARI MASA KE MASA

Laksamana Udara
Soerjadi Soerjadarma
9/04/1946 - 19/01/1962
Laksamana Madya
Omar Dani
19/01/1962 - 24/11/1965
Laksamana Muda
Sri Mulyono Herlambang
27/11/1965 - 31/03/1966
Laksamana Udara
Roesmin Noerjadin
31/03/1966 - 10/11/1969
 Marsekal TNI
Soewoto Sukendar
10/11/1969 - 28/03/1973
 Marsekal TNI
Saleh Basarah
28/03/1973 - 4/06/1977
Marsekal TNI
Ashadi Tjahyadi
4/06/1977 - 26/11/1982
Marsekal TNI
Soekardi
26/11/1982 - 11/04/1986
Marsekal TNI
Oetomo
11/04/1986 - 1/03/1990
Marsekal TNI
Siboen Dipoatmodjo
1/03/1990 - 23/03/1993
Marsekal TNI
Rilo Pambudi
23/03/1993 - 15/03/1996
Marsekal TNI
Sutria Tubagus
15/03/1996 - 3/07/1998
Marsekal TNI
Hanafie Asnan
3/07/1998 - 25/04/2002
Marsekal TNI
Chappy Hakim
25/04/2002 - 23/02/2005
Marsekal TNI
Djoko Suyanto
23/02/2005 - 15/02/2006
Marsekal TNI
Herman Prayitno
15/02/2006 - 28/12/2007
Marsekal TNI
Subandrio
28/12/2007 - 9/11/2009
Marsekal TNI
Imam Sufaat
9/11/2009 - 17/12/2012
Marsekal TNI
I.B. Putu Dunia
17/12/2012 - Sekarang

http://tni-au.mil.id

Sikap Tegas TNI, Menarik Pulang F-16 TNI AU dari Latma Elang-Ausindo di Darwin


Pesawat Tempur F-16 TNI AU (defence-studies.blogspot.com)
Jakarta, 22 November 2013. Terkait dengan ketidak acuhan fihak Australia dalam menanggapi protes Indonesia tentang ulah penyadapan badan intelijennya, TNI melakukan respon cepat perintah dari pimpinan nasional.  Presiden RI di depan wartawan  pada konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (20/11/2013), mengatakan, "Saya minta dihentikan dulu kerja sama yang disebut pertukaran informasi dan pertukaran intelijen di antara kedua negara. Saya juga minta dihentikan dulu latihan latihan bersama antara tentara Indonesia-Australia, baik Angkatan Darat, Laut dan Udara, maupun yang sifatnya gabungan,” tegasnya.
Selain itu, Presiden SBY juga menyinggung masalah people smuggling atau penyelundupan manusia yang telah merepotkan pemerintah RI."Saudara tahu menghadapi problem people smuggling yang merepotkan Indonesia dan Australia, kita punya kerja sama militer. Ini saya minta dihentikan dulu sampai semuanya jelas," tegas Presiden.
Menindaklanjuti keputusan Presiden SBY tersebut, terhitung mulai Rabu, 20 November 2013, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengambil langkah-langkah konkrit dan responsif yaitu ;Pertama, menghentikan seluruh kerja sama dalam bidang informasi dan intelijen. Kedua,menghentikan Latihan Bersama antara TNI AD dengan Royal Australian Army, yaitu Latihan Bersama Kartika Bura dan Latihan Bersama Down Komodo. Ketiga, menghentikan Latihan Bersama TNI AL dengan Australian Navy, yaitu Latihan Bersama New Horizon TTX, Latma Initial Planning Conference KAKADU dan Observer Ex Black Carilion.
Keempat, menghentikan Latihan Bersama Elang-Ausindo antara TNI AU dengan Royal Australian Air Force (RAAF) yang sedang berlangsung di Darwin, Australia. Pada hari ini Rabu (20/11/2013), TNI menarik pulang 5 (lima) pesawat tempur F-16 Fighting Falcon berikut seluruh personel pendukungnya yang terlibat dalam latihan tersebut. Termasuk juga penghentian kegiatan Air Man to Air Man Talk. Selain itu, seluruh latihan bilateral yang akan dilaksanakan TNI, baik TNI AD, TNI AL dan TNI AU dengan Angkatan Bersenjata Australia juga dihentikan sampai dengan waktu yang tidak ditentukan.
Sementara kerjasama juga dilakukan antara Polri dan Australia Federal Police (AFP). Dimana alat-alatcyber crime Polri termasuk alat pelacak yang di miliki Densus 88 Polri memang didatangkan dari Australia setelah peristiwa Bom Bali yang menyebabkan banyak Warga Negara Australia menjadi korban. Kapolri Jenderal Polisi Sutarman mengatakan kerjasama tersebut kini masih dilakukan dengan pihak Australia. "Kerjasama yang dilakukan diantaranya Transnasional Crime, Human Trafiking, pelatihan cyber crime dan sebagainya," kata Sutarman di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2013).
Kapolri menyatakan akan patuh terhadap keputusan presiden. Dikatakannya, "Saya belum tahu persis instruksi presiden seperti apa. Kalau memang harus dievaluasi saya kira ini pembicaraan antar negara. Ini antar negara. Kita tunggu keputusan bapak presiden. Apapun kita laksanakan," katanya. Sebenarnya Polri juga sebaiknya mengambil langkah seperti TNI membekukan kerjasama dengan AFP tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari presiden. Secara umum perintah sudah cukup jelas.
Indonesia tidak main-main dengan keputusannya, dan yang menjadi pokok persoalan adalah direndahkannya kehormatan dan martabat bangsa dan negara. PM Australia dalam posisinya beserta para inner circle-nya dinilai memandang rendah Indonesia, dengan tidak mau memenuhi permintaan maaf dan memberi penjelasan. Nampaknya komplikasi hubungan bilateral kedua negara akan terus memburuk, selama tidak adanya rasa menghargai dari Australia yang selalu mengatakan Indonesia sebagai mitra strategis. Pada kenyataannya dalam penjelasan dimuka parlemen Australia hari ini, PM Tonny Abbot tetap bersikukuh tidak akan meminta maaf karena beranggapan bahwa tindakan penyadapan badan intelijen Australia dalam rangka kepentingan pertahanan dan keamanannya.
Dengan demikian maka Australia yang oleh Indonesia diperlakukan sebagai negara sahabat, tetap memperlakukan Indonesia sebagai musuh. Itulah kesimpulan pemerintah Indonesia yang kemudian diterjemahkan dalam keputusan penghentian beberapa kerjasama bilateral kedua negara. Respon kilat TNI patut diacungi jempol, itulah gambaran disiplin TNI dalam mematuhi perintah pimpinan nasional.
Australia penulis perkirakan akan menjumpai banyak masalah dikemudian hari, terlebih apabila Edward Snowden kembali membocorkan dokumen penyadapan terhadap beberapa negara Asean lainnya kepada media. Yang dipastikan akan marah besar adalah Malaysia, kemungkinan keputusannya akan jauh lebih keras. Sebagai sesama negara yang tergabung dalam  pakta FPDA dengan Australia, Malaysia pasti akan merasa dikhianati. Kita nantikan pukulan lanjutan atas kegagalan diplomasi Australia dibawah kepemimpinan PM Tonny Abbott, yang jelas merugikan dirinya sendiri dan Australia. Bravo TNI.
Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Proyek KFX/IFX


Menteri Pertahanan Poernomo Yusgiantoro menjamin proyek jet tempur KFX/IFX yang bekerja sama dengan Korea Selatan resmi dilanjutkan. Kabar gembira ini disampaikan di sela-sela Rapat Pimpinan Pertahanan Negara hari ini (7/1/2014) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.
Pemerintah Korsel mengkonfirmasi hal ini pada tanggal 3 Januari 2014 lalu setelah sebelumnya menghentikan untuk sementara proyek jet tempur ini. "Kemarin kita hanya menunggu kepastian Korsel karena adanya perubahan pemerintah. Setelah parlemen baru me-review, ternyata mereka oke jadi kita lanjut tanpa ada perubahan apapun," ujarnya.
Menhan menargetkan purwarupa KFX/IFX akan selesai di masa Rencana Strategis (Renstra) kedua mendatang atau sekitar tahun 2016-2020. Hal ini diaminkan oleh Wakil Menhan Sjafri Sjamsoedin, menurutnya saat ini kedua negara masih menjalani studi kelayakan untuk jet tempur ini.
"Targetnya tahun 2015 kita bisa masuk Engineering Manufacturing Development. Design Center di PT DI mulai saat ini juga resmi bekerja kembali," jelasnya. (Septian)
Sumber: //www.angkasa.co.id/

Senjata Hipersonik



Apakah betul AS dan Rusia mengembangkan senjata rudal masa depan yang sanggup terbang dengan kecepatan hipersonik?
Putra Nirwana – Perumahan Chandra Mas, Sidoarjo, Jatim
Setelah serangan teroris 11 September 2001, pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS) memutuskan bahwa mereka perlu untuk mendapatkan kemampuan "serangan global yang cepat", menggunakan wahana yang mampu menghancurkan sasaran dengan bahan peledak konvensional di lokasi mana pun di bumi dengan cepat.
Hal itu dikarenakan AS punya pengalaman pahit ketika tahun 1998 Presiden Bill Clinton memerintahkan Armada AL AS di Laut Arab untuk menyerang sasaran kamp pelatihan Al Qaeda di dekat Kota Khost  (Afghanistan Timur) dengan lebih dari 60 buah rudal jelajah Tomahawk. Rudal-rudal jelajah ini meluncur ke arah utara pada ketinggian sekitar 30 meter di atas permukaan tanah dengan kecepatan subsonik 880 km/jam.  Dibutuhkan waktu terbang dua jam untuk mencapai sasaran dengan jarak sekitar 1.800 km.
Kamp latihan berhasil dihancurkan dan beberapa orang tewas. Namun sasaran utama serangan tanggal 20 Agustus 1998 itu, yaitu pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, berhasi lebih dulu meninggalkan lokasi sebelum rudal-rudal jelajah itu menghantam sasaran.
Sebetulnya para pakar senjata AS pernah punya ide untuk melakukan serangan kilat jarak jauh menggunakan rudal balistik antarbenua dan mengganti hulu ledak nuklir dengan bahan peledak konvensional. Namun halangan utama adalah kekuatiran jika penggunaan rudal balistik dapat disalahartikan sebagai awal dari serangan nuklir yang bisa memprovokasi serangan nuklir balasan skala penuh.
Namun negara lain yaitu China malah menggunakan konsep yang ditinggalkan AS tersebut. Pada tahun 2010 China melaksanakan program mengonversi rudal balistik nuklir menjadi pembunuh kapal induk dengan hulu ledak konvensional. Rudal balistik DF-21D “Carrier Killer” ini dirancang untuk menukik dari angkasa menuju sasaran kapal-kapal perang di Pasifik Barat dengan kecepatan hipersonik Mach 10. Meskipun akurasi sistem pembimbing arah  DF-21D pada sasaran kapal bergerak belum diketahui, namun keberadaan rudal tersebut sudah mengubah keseimbangan kekuatan di Pasifik Barat.
Para perencana militer AS kini memilih mengembangkan wahana hipersonik yang terbang cepat melalui atmosfer tanpa disalahartikan sebagai rudal nuklir. Wahana hipersonik ini menggunakan mesin penghisap udara dari atmosfer namun dapat meluncur pada kecepatan roket dan mencapai lima kali kecepatan suara atau Mach 5, setara dengan sekitar 6.200 km/jam di atas permukaan laut. Terbang di atmosfer membuat  wahana hipersonik bisa lebih mudah untuk bermanuver daripada di ruang angkasa. Sehingga lebih mudah menghindari rudal pencegat dan bisa mengubah lintasan jika sasaran berpindah posisi.
Mesin hipersonik memiliki desain yang sama sekali berbeda dari mesin turbofan dan turbojet yang digunakan pesawat tempur atau rudal jelajah karena mengandalkan mesin tanpa bagian yang berputar. Salah satu jenis mesin yang disebut ramjet  menggunakan lubang masukan khusus untuk memampatkan dan memperlambat aliran udara ke kecepatan subsonik. Saat ini rudal nuklir ASMPA bermesin ramjet buatan Perancis sudah operasional pada pesawat tempur Rafale dan Mirage. Rudal jelajah taktis nuklir ini mampu terbang 500 km dengan kecepatan Mach 3 atau sekitar 3.700 km/jam.
Masalahnya agar bisa mencapai kecepatan hipersonik Mach 5 mesin ramjet harus mendapatkan pembakaran dalam aliran udara supersonik yang disebut supersonic-combustion ramjet atau scramjet. Yang menjadi masalah utama adalah bagaimana menginjeksi dan membakar bahan bakar dalam aliran udara supersonik.
Baru-baru ini badan antariksa Amerika, NASA, telah membuat kemajuan dalam uji coba wahana scramjet X-51A Waverider. Pada tes pertama bulan Mei 2010, X-51A mencapai Mach 5 selama penerbangan sekitar 200 detik. Kedua tes berikutnya pada Juni 2011 dan Agustus 2012 gagal. Namun akhirnya pada uji coba penerbangan 1 Mei 2013 wahana X-51A berhasil mempertahankan kecepatan Mach 5.1 selama  empat menit sebagai penerbangan scramjet terlama dalam sejarah.
Setelah wahana hipersonik X-51A mulai mencoba pendekatan lain yang disebut Project Falcon. Peneliti Angkatan Udara AS dan DARPA, telah mengembangkan wahana hipersonik “boost-glide” yang dipasang pada rudal balistik antarbenua yang dimodifikasi. Tanpa menggunakan mesin scramjet wahana ini berhasil mencapai kecepatan hipersonik karena dijatuhkan dari ketinggian tinggi.
Wahana luncur hipersonik ini ditembakkan dengan rudal jelajah sampai  ketinggian tertentu di mana ia memisahkan diri dan tidak mengikuti  lintasan balistik namun meluncur kembali ke Bumi pada kecepatan lebih dari 20.000 km/jam. Wahana pertama diuji pada bulan April 2010, berhasil dipisahkan dari rudal balistik namun sekitar sembilan menit kemudian hilang kontak. Sebuah tes pada tahun 2011 juga gagal.
Meskipun demikian penelitian senjata hipersonik terus berlanjut karena meskipun sulit mengembangkan wahana hipersonik sangat mungkin. NASA sudah menguasai tehnologi pesawat ulang alik yang saat kembali kebumi mencapai kecepatan  Mach 25, begitu cepatnya sehingga gesekan memanaskan molekul udara menjadi lapisan plasma dan harus dilindungi pelapis khusus. Tehnologi ini cocok digunakan pada wahana hipersonik.
DARPA mencatat bahwa AS secara bertahap kehilangan "keuntungan strategis" dari penguasaan teknologi pesawat tempur siluman (stealth) akibat negara-negara lain juga terus mengembangkan kemampuan siluman dan kontra-siluman. Tahun lalu  pejabat tinggi Rusia pernah mengatakan bahwa desain rudal hipersonik menjadi prioritas bagi Rusia. Oleh karena itu DARPA menyarankan agar AS mengembangkan  "siluman baru" wahana hipersonik demi memiliki keunggulan dalam konflik mendatang. (Kol. PNB. Agung "Sharky" Sasongkojati)

Antara Old Eagle dengan T-50i Golden Eagle



Menkopolhukkam dan Kasau dengan dua Penerbang T-50i (foto khusus Menko)
 
Pagi hari Rabu (12/2/2014) saat penulis melihat updates BB, salah satu account dari pertemanan penulis  bernama Beetle telah berganti profile picture. Menggunakan overal berwarna hijau, masih gagah, berfoto di muka pesawat T-50i Golden Eagle. Beetle adalah call sign pribadi sebagai penerbang tempur  yang tetap melekat dari Menko Polhukkam, Marsekal TNI (Pur) Djoko Suyanto, yang berkiprah cukup lama sebagai penerbang tempur di Lanud Iswahyudi, Madiun. Sementara T-50i Golden Eagle adalah pesawat terbaru yang diserahkan pemerintah kepada TNI AU untuk dioperasikan sebagai pesawat transisi bagi penerbang tempur di Lanud Iswahyudi Madiun menggantikan pesawat Hawk MK-53 di Skadron Udara 15.
Pagi itu Beetle melakukan uji coba menjajal kecanggihan Golden Eagle bersama-sama dengan Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Putu Dunia yang juga penerbang tempur. Formasi dua pesawat dengan call sign Golden Flight, dimana  Djoko Suyanto terbang bersama dengan Komandan Skadron Udara 15 Letkol Pnb Wastun dengan pesawat TT 5004, sementara Kasau menggunakan pesawat TT 5008 bersama mayor Pnb Hendra Supriyadi. Penerbangan uji coba dilaksanakan sekitar satu jam dari Lanud Halim menuju training area Pelabuhan Ratu dan kembali ke Halim. Selama penerbangan, Beetle yang juga membahasakan dirinya Old Eagle merasakan beberapa manuver seperti Loop, Barrell roll, disamping melakukan terbang formasi . Setelah mendarat dikatakannya, pesawat ini canggih, mampu menjawab kebutuhan TNI AU dimasa mendatang, dan akan mencetak para penerbang tempur handal yang siap mempertahankan dirgantara Indonesia.
Demikian kecintaan penerbang tempur diusia senja ini, Beetle mengirim pesan kepada penulis "Old Eagle who still love to fly and fight." Beetle termasuk salah satu dari sedikit  penerbang tempur TNI AU yang pernah mengikuti pendidikan sekolah  USAF Fighter Weapon Instructor School di Pangkalan Udara Nellis, Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Sekolah ini adalah standard pendidikan  penerbang tempur tertinggi di USAF (United States Air Force). Pendidikan dengan persyaratan berat karena belum tentu  semua penerbang tempur di Amerika-pun bisa lolos dan masuk dalam pendidikan tersebut. Dengan disiplin yang tinggi, fisik prima dan kecerdasan diatas rata-rata, Beetle berhasil lulus, saat itu bersama-sama Letkol Pnb Suprihadi, yang kini purnawirawan TNI AU dengan pangkat Marsekal Madya, mantan Sekjen Dephan tersebut, merupakan  adik ipar penulis.
Setelah mendarat, Kasau menjelaskan, "Pesawat T 50i Golden Eagle buatan Korea ini yang nantinya akan dioperasikan di Skadron Udara 15 Wing 3 Lanud Iswahyudi Madiun, menggantikan Pesawat Hawk MK 53 setelah dioperasikan sejak tahun delapan puluhan," katanya. Bagi TNI AU, kedatangan 16 Golden Eagle merupakan sebuah penantian panjang yang sangat dibutuhkan dalam rangka transisi, mempersiapkan para penerbang tempur untuk mengawaki pesawat yang lebih canggih seperti F-16 serta Sukhoi 27/30. Pesawat ini juga sebagian akan dipergunakan sebagai pesawat aerobatic, (Jupiter Aerobatic Team). Dalam kondisi khusus, Golden Eagle juga akan dipergunakan sebagai pesawat serang ringan. Skadron 15 ini pernah mengalami kesulitan dalam pengadaan suku cadang MK-53 karena dilakukannya embargo pada masa lalu oleh Inggris, sebagai akibat tuduhan penggunaan Hawk untuk operasi Seroja di Timtim.

Serah Terima T-50i Golden Eagle

Kedatangan pesawat T-50i Golden Eagle menjadi kekuatan (alutsista) TNI AU merupakan kebanggaan serta sebua penantian panjang bagi para penerbang tempur. TNI AU memang merencanakan mengganti pesawat latih Hawk MK-53 dengan pesawat baru dan dituangkan  dalam rencana strategis (Renstra) 2005-2009.  Mabes TNI AU yang berencana melakukan penggantian sejumlah alutsistanya, seperti OV-10 Bronco, F-5 Tiger, pesawat angkut Fokker-27, Helicopter  Sikorsky dan Hawk Mk-53.
Saat Kasau dijabat oleh Marsekal Imam Sufaat, dikatakannya bahwa TNI AU telah menyeleksi empat jenis pesawat sebagai pengganti Hawk Mk-53 dan keempatnya akan memasuki seleksi akhir sebelum penentuan final.  Keempat tipe pesawat yang lolos ke seleksi tahap akhir adalah Yakovlev Yak 130 buatan Rusia, FTC2000 (Guizhou JL-9) buatan China, Aero L-159 buatan Ceko dan yang terakhir T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Tidak ada satupun pesawat buatan negara Barat yang masuk dalam pilihan.
Yakovlev Yak 130 merupakan pesawat jet latih subsonik buatan Rusia yang mulai terbang perdana pada 26 April 1996, Yak 130 sendiri mempunyai 2 varian yakni advanced trainer dan light attack. Guizhou JL-9 atau lebih dikenal dengan FTC-2000 Mountain Eagle (Shanying) pesawat tempur dengan tempat duduk ganda/double seater hasil pengembangan dari Guizhou Aircraft industry Corporation, China. Pesawat ini dipergunakan sebagai transisi para penerbang temppur China menyongsong pesawat generasi baru China, seperti Chengdu J-10, Shenyang J-11, Sukhoi Su-27SK dan Sukhoi Su-30MKK. Untuk pesawat L-159 buatan Rep. Ceko, sama halnya Yak-130 pesawat ini juga dibuat dalam dua versi yaitu versi trainer dengan tempat duduk ganda dan versi LCA (Light Combat Aircraft) dengan tempat duduk tunggal.
Pilihan keempat adalah pesawat T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Pada awalnya pesawat ini lebih dikenal dengan KTX-2 pesawat latih dan tempur ringan yang diproduksi dan diperuntukan bagi Republik of Korea Air Force (ROKAF). Pesawat latih supersonik seharga US $21 juta dolar (tahun 2008) ini menjanjikan banyak fitur canggih didalamnya. Dalam seleksi terakhir, T-50i Golden Eagle memenangkan persaingan. Pada tanggal 13 Februari 2014, secara resmi ke-16 pesawat Golden Eagle tersebut diserahkan ke Mabes TNI.
Sebelum penyerahan dilakukan penyerahan oleh Presiden Korea Aerospace Industry kepada Menhan RI yang diwakili Dirjen Ranahan. Acara serah terima pesawat T-50i itu disaksikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman, KSAL Laksamana TNI Marsetio, dan KSAU Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, di Taxi Way Echo Lanud Halim Perdanaksuma.
Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, penyerahan pesawat itu merupakan pelaksanaan kontrak yang ditandatangani pada 25 Mei 2011 dimana dalam kontrak pembelian, ke 16 pesawat tersebut dibeli dengan harga US$ 400 juta. Dikatakannya, "Pesawat ini akan meningkatkan peran TNI dalam mengemban tugas yang lebih besar menghadapi tantangan yang lebih kompleks dimasa mendatang." Selanjutnya dikatakan, "Dengan hadirnya  pesawat T-50i tersebut, maka status pembangunan kekuatan matra udara pada renstra 2010-2014 dalam rangka modernisasi alutsista yaitu skadron pesawat tempur strategis Sukhoi telah lengkap sebanyak 16 unit," ungkapnya.
Menurut Menhan, tahun ini akan datang 24 pesawat tempur F-16 setara Blok 52 buatan Amerika Serikat. Sampai awal semester II tahun 2014 akan datang lengkap 16 pesawat tempur Super Tucano untuk melengkapi satu skadron dalam rangka mendukung operasi pengaman dalam negeri. TNI AU juga akan diperkuat  UAV atau pesawat terbang tanpa awak  dalam rangka memperkuat operasi pemantauan perbatasan yang dipusatkan di Lanud Supadio Pontianak.
Menhan juga mengatakan, untuk pesawat angkut sedang, telah tiba di Indonesia sebagian besar dari 9 unit pesawat CN-295 yang merupakan hasil kerjasama produksi antara PT DI dengan Airbus Military dan rencananya akan menjadi satu skadron CN-295, juga akan tiba  2 unit CN-235 serta 1 unit Casa-212 sebagai pesawat angkut ringan.
Dalam rangka mendukung kegiatan airlift dan OMSP, telah dilakukan penambahan kekuatan sebanyak 9  pesawat angkut berat Hercules C-130H yang sudah mulai tiba secara bertahap. TNI AU juga telah menerima dan mengoperasikan pesawat latih lanjut KT-1B Wong Be buatan Korea Selatan yang digunakan oleh Tim Aerobatik TNI AU, Jupiter sebanyak 1 skadron.
Dilakukan juga peremajaan pesawat latih TNI AU  dengan mengganti pesawat latih T-34 C dan AS-202 Bravo yang sudah berusia sekitar 30 tahun dengan pesawat latih generasi baru yaitu Grob G-120 TP buatan Jerman sebanyak 18 unit yang rencananya akan dilengkapi menjadi 24 unit. Untuk jenis Helicopter TNi AU mendapat tambahan kekuatan beberapa jenis Helikopter yaitu Helly Super Puma NAS-332 sebanyak 3 unit dan Helly Full Combat SAR EC-725 Cougar dari Euro Copter sebanyak 6 unit.
Menurut Menhan, pemerintah Korea Selatan menyatakan akan melanjutkan kerjasama proyek pesawat KFX/IFX, pesawat tempur generasi 4,5  yang sempat terhenti. TNI AU juga sudah dan akan dilengkapi dengan tujuh buah radar diantaranya akan dipasang di Merauke, Saumlaki, Timika dan Morotai. Dengan demikian wilayah Timur akan tercover penuh.
Itulah perkembangan menggembirakan menyangkut perkuatan dan modernisasi alutsista TNI AU disamping juga modernisasi TNI AD dan TNI AL. Kini menjadi tugas berat bagi TNI AU, bahwa penambahan kekuatan serta modernisasi alutsista juga menuntut adanya peningkatan serta keseriusan dan fokus bagi setiap insan udara. Dibelikan pesawat mudah apabila keuangan negara memungkinkan, akan tetapi yang sulit adalah bagaimana TNI AU harus menjaga dan mempertahankan zero accident. Penyiapan sumber daya manusia serta dukungan operasi dan manajemen serta anggaran yang memadai merupakan tuntutan masa depan yang tidak sederhana dan mudah dilaksanakan.
Kepercayaan serta upaya keras dalam beberapa tahun dari akhir pemerintahan Presiden SBY dalam membenahi dan meningkatkan "daya kepruk" TNI AU jangan sampai disia-siakan. Justru menurut penulis disitulah sebuah awal tantangan bagi para generasi penerus TNI AU dalam mengelola alutsistanya untuk tetap mampu menjaga dirgantara Indonesia. Kekuatan Udara adalah penyerang strategis yang dapat mencapai garis belakang musuh, dan sekaligus mempertahankan wilayah dari serangan dalam bentuk pertahanan udara. Sekali saja mereka yang mengawaki tidak mumpuni dalam ajang persaingan dan profesionalisme sebagai insan udara, maka semuanya akan tidak bermakna.
Yang perlu juga diingat, semua yang dibeli itu berasal dari uang rakyat, uang kita bersama, karena itu jagalah kepercayaan serta amanah yang diemban. Selamat kepada para pejabat dan Anggota TNI AU, selamat bertugas dalam era modernisasi alutsista. Good Luck (Old Soldier Never Die).
Penulis: 
Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan

Australia Akan Membeli Pesawat Tanpa Awak Canggih MQ-4C Triton


Dalam meniadakan ancaman nasionalnya, Amerika Serikat menggunakan pesawat tanpa awak yang dikenal dengan istilah drones, atau UAVs (Unmanned Aerial Vehicles). AS dalam mengoperasikan beberapa macam jenis UAV, dalam praktek pertempurannya telah memberikan wewenang kepada CIA untuk mengendalikan skadron UAV bersama-sama US Air Force. Operasi intelijen (pengumpulan bahan keterangan serta serangan udara UAV) yang dilakukan AS di Afghanistan, Pakistan, Yaman, Iran dan bahkan di Korea Utara dilakukan dengan beberapa type UAV/drones seperti type Predator, Sentinel dan Shadow. Kelebihan pesawat intai tanpa awak ini selain mampu terbang berjam-jam, dapat menyadap saluran telpon, dan bahkan dengan teknologi terbarunya Sentinel dapat memonitor dan menerjemahkan gerakan manusia dibawahnya.
Di sisi lain UAV ini sukses sebagai pesawat penyerang, dibuktikan dalam operasi counter teroris di Afghanistan dan Pakistan, UAV sukses menyerang dan membunuh tokoh-tokoh teroris Al-Qaeda dan Taliban dengan peluru kendali Hellfire yang dilekatkan pada UAV. Para ahli strategi militer mengatakan bahwa UAV adalah kekuatan pengganda yang terbukti ampuh di medan perang modern. Banyak insan kedirgantaraan meyakini bahwa pertempuran di masa depan akan didominasi oleh UAV. Mulai dari pesawat intai tanpa awak yang terbang tinggi, jet tempur tanpa awak, helikopter tanpa awak yang diluncurkan dari darat dan laut. Kelebihan UAV, adalah cakupan pengawasan wilayah yang sangat luas, tanpa khawatir dengan perlunya istirahat awak pesawat. Dibandingkan pesawat mata-mata masa lalu U-2 UAV masa kini akan mampu terbang tinggi diatas 60.000 ft dalam waktu lama, berbeda dengan U-2, walau mampu membawa peralatan berat crew tidak bisa terbang tinggi dalam jangka waktu lama karena kelelahan. Pesawat UAV Triton Impian Australia Pada saat tergabung dalam operasi tempur di Afghanistan, pasukan darat Australia mendapat dukungan informasi intelijen dari armada pesawat tanpa awak dari satuan Royal Australian Air Force (RAAF) Heron yang berbasis di Kandahar. Pasukan darat penggempur bisa tidur nyenyak tidak takut diserang, karena wilayahnya di amati secara penuh oleh Heron yang dipersenjatai. Musuh bisa lari, tetapi tidak bisa sembunyi. Demikian menurut para ahli yang faham dengan keampuhan UAV.
Pada Tahun 2009, pemerintah Australia telah aktif melihat perkembangan perang masa depan, ikut menginvestasikan dana sebesar US$100 juta dalam proyek pengembangan UAV di AS. Pemerintahan Partai Buruh kemudian menghentikan keikut sertaannya dalam proyek US Navy yang dinamakan Broad Area Maritime Surveillance (BAMS) dalam proyek rahasia yaitu pengembangan Northrop Grumman Global Hawk Unmanned Aerial Vehicle ( UAV ). Global Hawk kini dinilai sukses, tercatat telah melalui 10.000 jam operasional dan dinilai sukses sebagai bagian utama dalam sebuah operasi udara (air intelligence). Global Hawk yang dimiliki oleh NASA (National Aeronautics and Space Administration) yang berpangkalan di Guam telah berhasil terbang di atas wilayah udara di Utara Australia untuk mengumpulkan data iklim dengan sampling udara dingin pada ketinggian tinggi untuk memprediksi cuaca. Ini adalah misi yang ideal untuk UAV (Global Hawk) yang bisa terbang di atas ketinggian 58.000 feet dan mampu berkeliaran selama 30 jam lebih diatas target cakupan yang luas, jauh di atas kemampuan pesawat lain, selain tidak terpengaruh oleh cuaca buruk.
Kini pemerintahan Australia kembali tertarik untuk memiliki pesawat UAV yang besar dan canggih. Nampaknya pilihan jatuh kepada UAS produksi Northrop Grumman Triton MQ-4C seperti yang kini dipergunakan oleh US Navy. Menteri Pertahanan Australia David Johnston kini sedang berjuang keras untuk mendapat persetujuan kabinet agar kebutuhan pengadaan tujuh Triton sebesar US$2,5 milyar dapat terpenuhi. Apabila rencana terlaksana, ke tujuh Triton akan dikendalikan oleh RAAF dengan dislokasi di Pangkalan RAAF Edinburg, dekat kota Adelaide. Menhan Johnston menekankan, "Sebagai negara maritim kemampuan dengan cakupan jenis ini harus memiliki perhatian kita," tegasnya. Idealisme Australia dalam memiliki UAV dengan klasifikasi tertentu sejak 2009 terus dikembangkan oleh Grumman. Sejak Australia menarik diri, Northrop Grumman telah mengembangkan versi Naval, UAV jarak jauh yang bertenaga jet yang disebut Triton. UAV ini menggabungkan banyak persyaratan desain awal Australia seperti memperkuat badan pesawat dan peralatan anti icing. Triton adalah satu-satunya UAV yang bisa terbang di 20.000 meter (60.000 feet) selama 30 jam dan dapat memantau hingga seluas 40.000 kilometer persegi lautan dalam misi tunggalnya. Triton memiliki lebar sayap 40 meter dan sensor suite akan mencakup radar 360 derajat yang kuat, seluruh elektro optik dan kamera infra merah, pelacakan sasaran dan auto motion video penuh. Versi Global Hawk juga telah digunakan sebagai simpul komunikasi untuk suara dan data untuk pasukan AS atas Afghanistan dan menurut Northrop Grumman sebuah Triton tunggal bisa menutupi area yang sama dengan 14 sampai 21 UAV lain.
Triton yang merupakan pengembangan lanjut dari UAV Global Hawk, dilengkapi dengan jet engine Rolls Royce, tidak dirancang untuk dipersenjatai. Pesawat dibangun untuk mampu menahan es dan turbulensi berat dan dapat membawa beban besar sensor kuat yang menjadikannya sebagai platform yang ideal untuk pengawasan daerah maritim yang luas. Triton juga dapat beroperasi dan memonitor daratan dan telah diuji kemampuannya dalam memonitor kebakaran hutan dalam skala luas, dimana kamera infra merah dapat melihat menembus asap tebal untuk menentukan pusat kebakaran, ancaman dan bahkan mampu mengidentifikasi blok mesin kendaraan di darat. Demikian keampuhan Triton, disamping kemampuan lainnya yang tidak diekspose.
Angkatan Laut AS membeli 68 buah Triton, dimana peran utama mereka adalah untuk memberikan sebuah perlindungan keamanan dengan kemampuan monitoring intelijen terhadap kemungkinan ancaman bagi armada US Navy di kawasan Eropa, Pasifik dan Timur Tengah. Angkatan Laut AS akan menguji keterampilan armada Triton hingga akhir 2017 sebelum pengiriman pada tahun 2018. Demikian informasi tentang rencana Australia untuk memiliki pesawat tanpa awak super canggih Triton MQ-4C. Alasan utama akan kebutuhan pesawat ini adalah kesimpulan rasa khawatir akan peran China yang semakin berani beraksi di kawasan Laut China Selatan. Elit di Australia jelas berhitung, apabila AS disuatu hari terpaksa menarik diri dari kawasan di Asia Timur dan Laut China Selatan, maka ancaman terhadap mereka akan menjadi nyata. Apakah hanya China yang akan mereka mata-matai, jelas tidak. Indonesia juga akan menjadi salah satu target operasi yang lebih spesifik di masa mendatang. Melihat cakupan pengawasan seluas 40.000 km persegi, maka Triton akan mampu berkeliling wilayah Indonesia. Karena itu para petinggi Indonesia semestinya sadar bahwa perang masa depan adalah perang mata-mata dan teknologi. Semoga bermanfaat.


Penulis: Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan
www.ramalanintelijen.net